“Kiamat” Baru Hantui Malaysia, Hajat Hidup Warga Terancam

PUTRAJAYA, MALAYSIA - OCTOBER 13: Detail view of Malaysian flag in Perdana Putra, the office complex of the Prime Minister of in Putrajaya in the background prior to the 26th Le Tour de Langkawi 2022, Stage 3 a 124.2km stage from Putrajaya to Genting Highlands 1649m / #PETRONASLTdL2020 / on October 13, 2022 in Putrajaya, Malaysia. (Photo by Tim de Waele/Getty Images)

“Kiamat” baru hantui Malaysia. Bukan tentang Covid-19 atau panasnya politik tapi terkait hajat hidup orang banyak di negeri itu.

Pemerintah Malaysia dilaporkan akan memberlakukan pembatasan penggunaan air untuk keperluan yang tidak penting. Warga juga dilarang banyak menyiram rumput dan tanaman di pekarangan rumah.

Kebijakan dilakukan lantaran Negeri Jiran bakal menghadapi cuaca kering dan lebih panas di bulan-bulan mendatang. Kementerian Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Malaysia menyebut ini akibat fenomena ElNino, yang datang April hingga September.

“Pada musim kemarau, ketersediaan air menjadi masalah kritis,” kata kementerian itu, mengutip¬†Straits Times, Selasa (18/4/2023).

“Dengan penurunan muka air dari sungai dan keringnya bendungan, mengurangi tingkat air baku yang dapat diolah,” tegasnya.

Pembatasan penggunaan air ini juga diatur dengan Undang-Undang Industri Layanan Air. Ada pula pendukung UU yakni perintah dari menteri.

“Kementerian melalui Komisi Pelayanan Air Nasional (SPAN) akan memantau ketinggian air di sungai dan bendungan yang memasok air baku ke instalasi pengolahan air,” tambah kementerian lagi.

“Rencana Tanggap Darurat akan diaktifkan jika permukaan air sungai dan bendungan menjadi terlalu rendah,” katanya.

Aturan ini tak hanya berlaku untuk warga. Tapi juga industri dan pusat komersial.

“Masyarakat didorong untuk menghemat air dalam penggunaan sehari-hari sementara pengguna industri dan komersial dapat menghemat dengan menggunakan air alternatif untuk operasi yang tidak dapat diminum,” kata kementerian lagi.

“Operator air akan diarahkan untuk meningkatkan efisiensinya dengan segera memperbaiki pipa yang bocor untuk mencegah pemborosan,” tambah kementerian.

Sebelumnya, pemerintah Penang telah meminta Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk melakukan penyemaian awan di daerah tangkapan air negara bagian karena ketinggian air di dua bendungan utama, Air Itam dan Teluk Bahang, telah turun secara signifikan. Perlu diketahui, di 2020, kebutuhan air warga Malaysia cukup tinggi yakni 219 liter per hari, jauh dibanding standar nasional 160 liter per hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*