Ngeri! Karena Ini, RI Bisa Diterpa Badai Lagi Tahun Depan

SPBU Pertamina (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Indonesia diprediksi bisa terkena hantaman badai ekonomi tahun depan, khususnya menyoal kenaikan harga minyak mentah dunia. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai harga minyak mentah dunia yang terus mengalami kenaikan tentu akan berisiko untuk Indonesia pada tahun 2023.

Jika harga minyak mentah dunia konsisten naik, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun depan bisa nyungsep lagi. Karena seperti yang diketahui, harga minyak mentah dunia belakangan kembali melejit, pasca keputusan kelompok negara penghasil minyak yakni OPEC+ memutuskan untuk memotong produksi minyak mentah hingga 2 juta barel per hari (bph).

Abra memprediksi harga minyak mentah dunia bisa tembus lagi di angka US$ 100 per barel, hal itu apabila keputusan OPEC+ memangkas produksi minyak mentah dunia dijalankan secara konsisten dengan asumsi tidak adanya intervensi dari Amerika Serikat (AS).

Maksud dari intervensi AS, kata Abra, di mana AS tidak menggelontorkan tambahan suplai minyak. “Dan terbukti dengan rencana kebijakan pemangkasan OPEC+ ini harga minyak mentah sudah naik 4%. Jika Amerika tidak menggelontorkan tambahan suplai, yaitu tentu akan berdampak pada kenaikan harga minyak mentah kembali ke atas US$ 100 per barel,” ungkap Abra.

Abra menilai, risiko asumsi kenaikan harga minyak mentah mencapai US$ 100 per barel akan berdampak pada beban APBN. Dampak lain yang bisa terjadi yaitu bertambahnya beban usaha seperti Pertamina dalam menyediakan pasokan BBM dalam negeri.

Maklum, berdasarkan Rancangan APBN 2023, angka asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) berada di kisaran US$ 90 per barel. Penetapan angka asumsi ini dinilai moderat mengingat harga minyak mentah dunia berada di kisaran yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*