WALHI Ingatkan Potensi Bencana Besar, Jika Air Salah Dikelola

Kerjasama dan Partisipasi Dalam Pengelolaan Air (CNBC Indonesia TV)

Direktur Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Zenzi Suhadi memperingatkan adanya ancaman bencana besar yang akan terjadi dari adanya krisis air yang disebabkan tata kelola yang tidak baik.

Menurutnya, krisis air saat ini terjadi disebabkan karena adanya pengetahuan yang melampaui perjalanan peradaban manusia, seperti penggunaan air berlebih, penggunaan kimia, hingga terbentuknya pusat kependudukan yang baru seperti kota.

Hal tersebut dikatakannya dapat menimbulkan beberapa potensi bencana. Menurutnya, karena Indonesia berada di wilayah hutan tropis dan ring of fire, sehingga jika air tidak dikelola dengan baik, maka ada bencana banyak terjadi.

“Di musim kering di Sumatra dan Kalimantan dia selalu hadir dalam bentuk bencana kebakaran hutan dan asap, ini kesalahan tata kelola dan kebijakan yang memodifikasi ekosistem perairan gambut menjadi daratan, begitu juga dengan wilayah lain,” ujarnya dalam spesial dialog dengan tema “Air untuk Kesejahteraan Bersama-Menuju 10th World Water Forum 2024 di Bali” yang diselenggarakan Kementerian PUPR bersama CNBC Indonesia, Selasa (6/12/2022).

Masalah persoalan kesalahan tata kelola air ini juga mengakar dari dimana hutan dan resapan air yang jumlahnya kini sudah sedikit.

“Masalahnya curah hujan tidak akan menyesuaikan volumenya dengan hutan yg tersisa. Artinya tutupan hutan yang harus ditambah kalau mau kurangi bencana hidrologis,” jelasnya.

Kemudian, hal ini pun menjadi tantangan agar bagaimana stakeholder mengatur penggunaan dan pemanfaatan air yang tidak dibatasi oleh wilayah administratif.

“Tata kelola air kita dibatasi oleh wilayah pemerintahan, pulau, dan lain-lain. Tapi air tidak dibatasi oleh administratif. Air universal menyebrang kemanapun, ini tantangannya bagaimana kebijakan yang mengatur tata kelola air termasuk mengatur penggunaan dan pemanfaatan air dia mengikuti sifat air itu sendiri tidak dibatasi wilayah,” pungkasnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*